Selasa, 23 April 2019

Banyak Tol Baru, Penerbangan Tambahan untuk Lebaran Diprediksi Menurun

JAKARTA/SURABAYA – Mendekati bulan Ramadan dan momen Idul Fitri, umumnya permintaan penerbangan tambahan akan meningkat pesat untuk mengakomodasi masyarakat yang ingin pulang kampung dan bepergian. Namun, pada Lebaran tahun ini, permintaan extra flight diprediksi akan merosot tajam, salah satunya banyak tol baru yang selesai dibangun.

Dilansir dari CNBC Indonesia, permintaan penerbangan tambahan untuk momen mudik Lebaran tahun ini diperkirakan menurun. Pasalnya, kurang dari dua bulan mendekati Lebaran, pengajuan penerbangan tambahan baru tercatat 226. Jumlah tersebut menurun jauh dibandingkan permintaan tahun lalu yang sebanyak 1.600, dengan realisasi sekitar 300 hingga 400 penerbangan.

“Waktu itu, jumlah bandara masih 14 unit, kala sekarang ada 16 bandara, sehingga mungkin pergerakannya agak sedikit dinamis,” tutur Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, Senin (22/4) kemarin. “Untuk kebutuhan periode angkutan Lebaran nanti memang sedikit turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.”

Prediksi penurunan permintaan tambahan penerbangan ini tidak lepas dari banyaknya alternatif moda transportasi lain, terutama di Jawa dan Sumatera, sejak terbangunnya banyak ruas tol baru. Moda transportasi darat pun kian menjadi primadona untuk mudik. Meski demikian, PT Angkasa Pura II masih meyakini pergerakan penumpang tetap akan naik dibandingkan hari normal.

“Kami masih optimistis prediksi pergerakan untuk pesawat sendiri itu 1 hingga 1,5 persen untuk pergerakan penambahan pesawat. Sementara, untuk penumpang, kami perkirakan 2 sampai 3 persen,” sambung Awaluddin. “Bandara Internasional Soekarno-Hatta masih bakal menjadi yang terpadat, selain di Surabaya (Bandara Internasional Juanda) dan Solo (Bandara Adisoemarmo).”

Meski diprediksi akan menurun, namun pihak Bandara Juanda tetap bersiap untuk melayani permintaan penerbangan tambahan dari maskapai. Tetapi, tidak semua tidak semua slot bakal dipenuhi. Pasalnya, status Bandara Juanda yang juga dipergunakan untuk pendaratan militer membuatnya harus berbagi tempat. Di samping itu, kebijakan penerimaan slot juga berada di tangan Direktorat Jenderal Angkutan Udara Kementerian Perhubungan.