Minggu, 24 Februari 2019

Tarif SMU Naik, Laju Pengiriman Kargo di Jawa Timur Anjlok

Surabaya – Keputusan maskapai penerbangan untuk menaikkan tarif surat muatan udara (SMU) disebut-sebut telah mengurangi laju pengiriman barang di Jawa Timur. Bahkan kabarnya kenaikan SMU telah mengakibatkan penurunan produksi kargo domestik (datang dan keluar Jatim) selama Januari 2019 sebesar 18% dibandingkan bulan Desember 2018.



“Memang, setelah ada penyesuaian harga, terjadi penurunan 18 persen. Penurunan terasa paling banyak untuk barang yang datang dari luar Surabaya, yakni mencapai 30 persen,” kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jatim Ima Sumaryani, Senin (18/2), seperti dilansir Jawapos.

Sementara itu, volume logistik yang keluar dari Bandara Juanda juga dilaporkan turun 12%. Jakarta masih menjadi kota tujuan logistik yang mendominasi pengiriman dari Bandara Juanda dengan persentase sebesar 60%, kemudian diikuti Kota Batam, Bandung, dan Balikpapan. “Padahal sepanjang tahun 2018, rata-rata outgoing per bulan sebesar 4.000 ton dan incoming 2.500 ton,” ujarnya.

Lebih lanjut Ima menjelaskan, rata-rata volume kargo yang dikirim dari Surabaya mencapai 4 juta kg per bulan tahun 2018. Kemudian untuk volume barang yang masuk mencapai 2,5 juta kilogram per bulan. Saat ini volume barang yang keluar dan masuk ke Surabaya kompak mengalami penurunan.

Supaya tetap dapat melayani para pelanggan, pihak ALFI pun memberi alternatif pengiriman barang melalui kereta api atau truk guna menekan tarif. “Kalau menggunakan jalur darat, biaya yang diperlukan hanya 30 persen dari biaya jalur udara,” papar Ima.

Oleh sebab itu ALFI berharap supaya kenaikan tarif SMU dapat ditinjau ulang supaya kegiatan pengiriman kargo domestik udara bisa kembali normal. Kenaikan SMU sendiri dipicu oleh sejumlah biaya yang mengalami kenaikan seperti bahan bakar pesawat, avtur yang naik hingga 40% sejak Desember 2018, dolar AS yang naik hingga 23%, dan biaya lain naik 65% karena dibayar menggunakan kurs dolar AS.

“Kami minta masalah tarif ini ditinjau agar kehidupan di bandara kembali normal dan ada pertumbuhan lagi, sehingga anggota ALFI tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan,” pungkasnya.