Rabu, 26 Desember 2018

Bandara Juanda Dinyatakan Aman Tak Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

Sidoarjo – PT Angkasa Pura (AP) I memastikan Bandara Internasional Juanda Surabaya aman dan tak terkena dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada Senin (24/12). Hal ini disampaikan langsung oleh Communication and Legal Section Head Bandara Internasional Juanda Surabaya, Yuristo Ardhi Hanggoro.

Yuristo mengungkapkan bahwa hingga kini masih belum ada dampak abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Juanda Surabaya. “Saat ini tidak ada, namun kita akan selalu berkoordinasi dengan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika),” kata Yuristo, Senin (24/12), seperti dilansir Tribunnews.

Lebih lanjut Yuristo memaparkan bahwa bentuk koordinasi yang dilakukan oleh pihak PT AP I Cabang Juanda dengan BMKG adalah update informasi sehubungan dengan peningkatan aktivitas atau arah angin yang berpotensi membawa abu erupsi. Kelak jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan seperti terjadinya hujan abu di area Bandara Juanda, maka pihaknya akan langsung melakukan paper test. “Kita lakukan paper test, kita akan lihat seberapa tebal abu erupsi tersebut,” jelas Yuristo.

Jika hujan abu dinilai tebal dan berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan, maka pihak AP I akan langsung melakukan koordinasi dengan pihak Airnav dan instansi lain yang terkait dengan Bandara Juanda Surabaya. “Kita akan melakukan penutupan operasional Bandara Juanda untuk sementara atau tidak. Kita harus koordinasi dahulu dengan banyak pihak,” ungkap Yuristo.

Meski demikian, Yuristo kembali menegaskan jika sejauh ini kondisi Bandara Juanda Surabaya relatif aman untuk melayani aktivitas penerbangan ke berbagai destinasi, baik domestik maupun internasional. “Kita tidak ingin terjadi kepanikan bagi para penumpang dan calon penumpang. Karena kita akan selalu pantau terus perkembangan terkait erupsi yang terjadi di Gunung Anak Krakatau,” tutup Yuristo.

Sementara itu, erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda diperkirakan masih akan berlangsung. Gempa tremor dengan amplitudo di atas 40 mm masih tetap mendominasi. “Kalau secara visual kita enggak bisa lihat masih tertutup kabut tebal, terus ini kalau dari sisi kegempaan, tremornya mendominasi. Kalau kejadian sebelumnya sama, kemungkinan masih terjadi erupsi,” ujar Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Kristianto.