Senin, 10 September 2018

Angkasa Pura Buka Kedai Teh Premium di Bandara Juanda

JAKARTA – Tempat nongkrong dan kuliner di Bandara Internasional Juanda sebentar lagi akan bertambah. Pasalnya, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dikabarkan akan membuka gerai kedai teh premium di bandara tersebut. Menggandeng PT Angkasa Pura Retail, perusahaan tersebut bakal menyuguhkan sajian teh merek Bhumi.



“Kami ingin menempatkan produk teh yang dihasilkan anak perusahaan kami, PT Mitra Kerinci, dalam level yang sama dengan merek asing yang sudah populer dan beredar di pasar,” ujar Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi PT RNI, Agung P. Murdanoto, dilansir Kontan. “Kita akan menjadi tuan rumah di negara sendiri, dan dengan kerja sama dengan PT Angkasa Pura I, kami akan membuka kedai di bandara dari Surabaya kemudian ke timur.”

Ia menambahkan, sebenarnya kerja sama ini telah dibangun sejak tahun 2014 lalu antara PT Mitra Kerinci, anak usaha PT RNI, dengan PT Angkasa Pura Retail. Target kerja sama tersebut adalah untuk menjadikan teh asli Indonesia sebagai oleh-oleh khas dan menaikkan citra teh Nusantara di mata dunia internasional.

“Kami telah bekerja sama dengan PT Mitra Kerinci dan akan membuka satu gerai teh di Bandara Juanda Surabaya dalam waktu satu bulan,” timpal Business Development & Marketing Communication Manager PT Angkasa Pura Retail, Nely Almatiser. “Berikutnya, perusahaan juga akan membuka gerai teh tersebut di Bandara Ahmad Yani (Semarang) dan I Gusti Ngurah Rai (Bali).”

Sejak tahun 2017 lalu, PT Mitra Kerinci memang getol menggarap segmen teh premium. Salah satu produk teh premium yang mereka produksi adalah jenis white tea. Sebelumnya, perusahaan sudah memproduksi teh hitam yang dibuat sesuai dengan permintaan pasar. Tahun 2016 lalu, kontribusi ekspor teh hitam mencapai angka 3 persen sampai 4 persen dari total penjualan.

“Pada tahun 2018 ini, kami menargetkan bisa memproduksi teh hingga 20.000 ton,” kata Direktur PT Mitra Kerinci. Yosdian Adi Pramono. “Kami yakin target tersebut bisa terealisasi, cuma faktor alam yang tidak bisa dilawan.”