Minggu, 11 Juni 2017

Pesawat Lion Air Alami Insiden Bird Strike Saat Akan Mendarat di Bandara Juanda

Jakarta – Pesawat Lion Air baru saja mengalami insiden saat akan mendarat di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Kabarnya pesawat Lion menabrak burung alias bird strike hingga bagian moncong depan pesawat penyok. Hal itu diungkapkan oleh salah seorang pengamat penerbangan, Alvin Lie yang mengaku memperoleh kabar ini dari rekannya yang berada di Airnav.

Pesawat Lion Air tersebut diperkirakan menabrak burung pada kecepatan sekitar 300 km per jam. “Itu benturannya keras itu. Kalau pesawat jelang mendarat itu kecepatannya bisa 300 km per jam,” kata Alvin seperti dikutip Okezone.
Dengan kecepatan sekencang itu, burung yang ditabrak oleh pesawat Lion Air diperkirakan langsung mati. “Bahkan burung itu saya kira hancur, apalagi moncong pesawat itu sampai penyok dan berlubang,” imbuhnya.
Sedangkan Humas Public Relations Manager Lion Air, Andy M. Saladin membenarkan jika insiden bird strike memang telah dialami oleh pesawat Lion Air bernomor penerbangan LNI823. “Ia benar ada kejadian itu,” ujar Andy singkat.
Di sisi lain pengamat penerbangan Arista Admajati menuturkan jika insiden bird strike adalah hal lumrah yang kerap terjadi dalam dunia penerbangan. Insiden semacam ini sering dialami oleh pesawat yang berlalu-lalang di bandara yang lokasinya dekat dengan wilayah pesisir, seperti halnya Bandara Juanda, Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali, dan Bandara Ahmad Yani di Semarang.
“Kasus bird strike ini kebanyakan terjadi di bandara-bandara yang lokasinya dekat pantai. Kan biasanya burung-burung seperti burung kuntul yang menabrak Lion Air itu kan di pantai. Bandara yang berada di dekat pantai selain Surabaya ada Jakarta, Semarang, dan Bali,” ucap Arista.
Lebih lanjut Arista menjelaskan jika umumnya kejadian bird strike berlangsung ketika pesawat akan tinggal landas (take off) dan mendarat (landing). Sangat jarang pesawat menabrak burung ketika tengah berada pada ketinggian yang aman. “Burung kan terbangnya tidak tinggi-tinggi amat. Karena itu paling sering terjadi saat take off dan landing di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut. patroli mobil Angkasa Pura bisa diperbantukan untuk mengusir burung di restricted area seperti apron dan runaway untuk mengusir burung yang biasanya berkeliaran,” tandasnya.