Sabtu, 24 Juni 2017

Jumlah Keberangkatan Mudik di Bandara Juanda Tumbuh 21,89%

Sidoarjo – Puncak arus mudik Lebaran 2017 sebelumnya diperkirakan berlangsung pada H-2, atau Jumat (23/6) kemarin. Tetapi sampai pukul 15.00 WIB masih belum terjadi adanya penumpukan penumpang di Bandara Juanda.

Menurut General Manager PT Angkasa Pura (AP) I Cabang Juanda, Yuwono, hingga kini arus mudik di Bandara Internasional Juanda masih relatif normal. “Sampai saat ini Bandara Juanda masih relatif normal. Prediksi hari ini puncaknya sebanyak 73 ribu penumpang, namun sampai saat ini (pukul 15.00 WIB) belum terlihat,” ujar Yuwono seperti dilansir Detik, Jumat (23/6).
Lebih lanjut Yuwono mengungkapkan jika jumlah penumpang pada Kamis (22/6) mencapai 64 ribu, baik yang datang maupun berangkat. “Diperkirakan hari ini (kemarin) puncaknya, tapi di Bandara Juanda didominasi penumpang datang,” katanya.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa perolehan target pertumbuhan transportasi udara saat ini memperlihatkan hasil yang cukup positif karena target yang sudah ditetapkan sudah tercapai.
“Yang menggembirakan adalah beberapa tempat pertumbuhannya sangat positif, sehingga asumsi kita pertumbuhan sembilan persen itu sudah tercapai,” jelas Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Posko Terpadu Angkutan Lebaran 2017, Jumat (23/6).
Budi mengatakan bahwa asumsi tersebut berasal dari pemantauan lalu lintas udara, terutama di wilayah Indonesia barat yang relatif baik. Berdasarkan data dari Ditjen Perhubungan Udara, sampai H-2 Lebaran di Bandara Juanda mengalami kenaikan keberangkatan hingga 21,89% dibanding tahun sebelumnya yang hanya 21.175 menjadi 25.811 keberangkatan.
Pertumbuhan penumpang juga terpantau di Bandara Adisutjipto yang mengalami kenaikan 42,38% dari tahun lalu, yakni 1.751 menjadi 2.493 keberangkatan. Budi memprediksi jika pada hari ini, Sabtu (24/6) kemungkinan terjadi kenaikan jumlah penumpang yang cukup signifikan.

Budi juga mengungkapkan bahwa fungsi bandara yang berjalan dengan baik juga ikut mempengaruhi preferensi masyarakat. Dengan demikian, transportasi udara bisa menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat untuk bepergian. “Apabila kondisi udara baik, konektivitas udara bisa mensubtitusi angkutan-angkutan lain seperti angkutan darat yang sekarang kurang maksimal,” tandasnya.