Selasa, 29 November 2016

Kebijakan TNI AL, Taksi Online Dilarang Beroperasi di Bandara Juanda

Pihak otoritas Bandara Internasional Juanda telah melarang taksi dan ojek online untuk beroperasi di kawasan tersebut. Alasannya, Bandara Juanda merupakan Inclave Sipil, yang meski melayani penerbangan sipil dan komersial, namun berada di lingkungan TNI AL sehingga harus tunduk pada kebijakan TNI AL.

Dijelaskan Humas PT Angkasa Pura I Juanda, Anom Fitranggono, larangan taksi dan ojek online untuk beroperasi di Bandara Juanda memang berlaku belum lama ini. Hanya saja, pengelola bandara ini mengaku tunduk pada TNI AL. “Kami patuh saja pada kebijakan TNI AL,” kata Anom.
“Larangan taksi dan ojek online beroperasi menaikkan penumpang di Bandara Juanda adalah otoritas TNI AL yang ada di Bandara Juanda, yaitu Lanudal Juanda,” jelas Anom. “Jadi, PT Angkasa Pura I hanya mendukung kebijakan tersebut.”
Terpisah, Komandan Lanudal Juanda, Kolonel Edwin, mengatakan bahwa pihaknya memang melarang taksi online menaikkan penumpang di Bandara Juanda. “Kami punya kewenangan tersendiri,” tandas Edwin.
Memang, tulisan taksi online dilarang menaikkan penumpang di Bandara Juanda tertulis jelas di pintu masuk bandara. Tulisan tersebut begitu mencolok dibentangkan di pos pemeriksaan, persis di depan petugas militer yang biasa mengecek dan memeriksa setiap kendaraan yang hendak masuk Terminal Bandara Juanda.
Karena taksi online dilarang beroperasi, penumpang mau tidak mau terpaksa menggunakan layanan taksi konvensional. “Mau bagaimana lagi, taksi online dilarang menaikkan penumpang dari Juanda. Saya terpaksa naik taksi konvensional,” kata salah satu penumpang bernama Ensa.
“Padahal, dari sisi tarif, taksi online lebih nyaman ketimbang taksi konvensional,” sambung Ensa. “Dengan taksi online, penumpang bisa tahu tarif di awal sebelum menuju tempat tujuan.”