Kamis, 10 Maret 2016

Sejarah Taksi Prima di Bandara Juanda

Sebagai salah satu bandara berkelas internasional di Indonesia, Bandara Juanda juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang untuk memenuhi kebutuhan penumpang. Salah satu fasilitas yang disediakan oleh PT Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Juanda adalah moda transportasi massal, yaitu taksi.

Dari beberapa taksi yang kini tersedia, salah satu taksi yang cukup lama beroperasi di Bandara Juanda adalah taksi Prima. Taksi yang dikelola oleh Primer Koperasi Angkatan Laut (Primkopal) milik TNI AL ini bahkan telah beroperasi sejak tahun 1979 silam, bersama dengan taksi Wing.
Namun sebenarnya, usaha taksi Prima ini tidak semata-mata hanya untuk pemenuhan terhadap kebutuhan akan pasar. Salah satu alasan paling klasikal adalah masalah akan kebutuhan pemenuhan anggaran yang minim. Kondisi keuangan negara yang tidak stabil pada saat itu membuat sejumlah kalangan TNI melakukan bisnis militer, salah satunya TNI AL di lingkup Bandara Juanda.
Dalam perkembangannya, taksi Prima kepunyaan Primkopal memonopoli layanan antar-jemput penumpang di Bandara Juanda. Tiket taksi ini bisa dibeli di loket pintu keluar bandara, baik penerbangan domestik maupun internasional.
Dengan adanya monopoli taksi Prima, maka taksi komersial lain tidak diperbolehkan mengangkut penumpang di seluruh area Bandara Juanda, kecuali menurunkan penumpang. Jika taksi komersial lain ketahuan mengangkut penumpang, bisa dikenakan sanksi.
Monopoli taksi Prima milik Primkopal ini tentunya cukup meresahkan penumpang. Pasalnya, penumpang tidak memiliki moda transportasi alternatif sehingga rentan mendapatkan tarif tinggi. Taksi Prima sendiri menerapkan sistem tarif zona, yang bertentangan dengan PP No. 41 tahun 1993 yang menyatakan bahwa taksi seharusnya menerapkan pembayaran tarif berdasarkan argometer yang berfungsi baik.
Setelah melalui proses hukum yang panjang, akhirnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan operasionalisasi taksi di Bandara Juanda harus lebih terbuka. Pihak PT Angkasa Pura I pun membuka pintu bagi perusahaan taksi argo swasta apa pun untuk beroperasi di Bandara Juanda.
Sebagai langkah awal, pada tahun 2013 lalu, ada tiga perusahaan taksi argo, yaitu Bosowa, O-Renz, dan Gold, yang akan bersaing dengan taksi Prima milik Primkopal. Sebanyak 30 armada taksi ditempeli label “taksi bandara”.
Kini, untuk menghadapi persaingan yang makin terbuka, Primkopal telah memiliki 480 unit taksi Prima di Bandara Juanda. Dari jumlah itu, 30 unit taksi Prima menggunakan argometer, sedangkan sisanya masih menggunakan sistem zona.