Kamis, 22 Oktober 2015

Profil Pahlawan Nasional Ir. H. Juanda

Bandara International Juanda adalah salah satu bandara terbesar di Asia Tenggara yang menjadi pintu gerbang perhubungan udara internasional.

Berbagai rute penerbangan dalam dan luar negeri telah dilayani oleh Juanda International Airport dalam kurun waktu lebih dari dua dasawarsa.

Belum banyak yang tahu bahwa nama bandara Juanda diambil dari nama seorang Pahlawan Nasional bernama Ir. H. Juanda yang bernama asli R. Djoeanda Kartawidjaja.


Ir. H. Juanda adalah perdana menteri Indonesia yang ke sepuluh sekaligus menjadi perdana menteri terakhir. Ir. H. Juanda lahir di Tasikmalaya, 14 Januari 1911. Lelaki berdarah Sunda ini merupakan anak seorang bangsawan bernama Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat. Raden Kartawidjaja adalah seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS).

Pendidikan yang ditempuh oleh Ir. H. Juanda atau R. Djoeanda Kartawidjaja dimulai dari menempuh pendidikan sekolah dasar di HIS, kemudian melanjutkan jenjang menengah pertama di, Europesche Lagere School (ELS). Tingkat pendidikan menengah atas beliau diselesaikan di Hogere Burger School (HBS) di Bandung, dan lulus tahun 1929.

Setelah menyelesaikan studinya di jenjang pendidikan tingkat menengah atas, R. Djoeanda Kartawidjaja melanjutkan pendidikannya di Technische Hooge School atau yang sekarang bernama Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung. Di ITB, R. Djoeanda mengambil jurusan teknik sipil yang berhasil ia tamatkan di tahun 1933.

Selepas kelulusannya dari ITB, sepak terjang dan bakti Ir. H. Juanda untuk Indonesia dimulai.

Sejak dalam masa kuliahnya di ITB, Ir. H. Juanda telah aktif di organisasi non politik yaitu Paguyuban Pasundan dan anggota Muhamadiyah. Beliau bahkan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhamadiyah.

Ir. H. Juanda atau R. Djoeanda Kartawidjaja adalah seorang pegawai negeri dan abdi negara yang patuh. Beberapa kali Ia sempat mendapatkan tawaran untuk bersekolah lagi dengan biaya dari pemerintah Hindia Belanda pada saat itu, agar kelak dapat berkarir dalam dunia pendidikan dengan menjadi asisten dosen dengan gaji yang jauh lebih besar dari pekerjaan yang dilakoninya sebagai guru SMA pada saat itu. Namun Ir. H Juanda menolak karena ia telah merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap anak-anak didiknya dan tidak dapat meninggalkan begitu saja demi keuntungan materi untuk dirinya sendiri.

Karir selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum propinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.

Pada masa Agresi Militer Belanda ke-II pasca proklamasi kemerdekaan RI, Ir. H. Juanda sempat ditangkap oleh tentara Belanda pada tanggal 19 Desember 1948. Ir. H. Juanda dibujuk agar bersedia ikut dalam pemerintahan Negara Pasundan. Tetapi dia menolak. Ia betul-betul sosok seorang abdi negara dan masyarakat yang bekerja melampaui batas panggilan tugasnya. Ia mampu menghadapi tantangan dan mencari solusi terbaik demi kepentingan bangsa dan negaranya. Karya pengabdiannya yang paling strategis adalah Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957.

Ir. Djuanda dijuluki ‘menteri marathon’ karena sejak awal kemerdekaan (1946) sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959)

Ir. H. Juanda juga menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). hal ini membuat Ir. H. Juanda ditasbihkan sebagai menteri termuda, 14 kali sebagai menteri, dan sekali menjabat Perdana Menteri.

Ir. H. Juanda wafat di Jakarta 7 November 1963 karena serang jantung dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.244/1963 Ir. H. Djuanda Kartawidjaja diangkat sebagai tokoh nasional/pahlawan kemerdekaan nasional.

Nama Ir. H Juanda kemudian digunakan sebagai nama Bandara Internasional Juanda Surabaya, dan juga sebagai nama Taman Hutan Raya Ir. H Juanda di Bandung, Jawa Barat yang memiliki museum dan monumen Ir. H. Juanda di dalamnya.