Senin, 14 September 2015

Diminta Bersaing dengan Pihak Swasta, Pertamina Ancam Tutup Penjualan Avtur di Bandara Kecil

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan kabarnya tengah mempertimbangkan agar perusahaan swasta bisa berjualan Avtur di bandara-bandara Indonesia. Langkah ini diambil menyusul keputusan PT Pertamina yang tak bersedia untuk menurunkan harga avturnya.

Ahmad Bambang selaku Direktur Pemasaran Pertamina menanggapi kabar ini dengan tenang. "Nggak apa-apa, silahkan saja. Tapi yang jadi pertanyaan Pertamina, boleh nggak Pertamina juga menutup pelayanan avtur di bandara-bandara kecil, yang sebenarnya Pertamina rugi jualan di sana?" ujarnya dalam suatu wawancara dengan awak media, kemarin (12/9).

Menurut bambang, pihak swasta sepertinya hanya akan mengincar bandara besar saja, sekelas Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Bandara Juanda Surabaya, dan Bandara Ngurah Rai Bali karena dinilai lebih menguntungkan. “Lihat Shell dan Total, lihat saja. Terbuktikan mereka hanya masuk di kota-kota besar, sedangkan Pertamina wajib melayani daerah-daerah lain hingga ke pelosok daerah meski rugi. Bahkan SPBU AKR yang jual solar subsidi saja sekarang tutup, karena harga solar subsidi buat mereka rugi (lebih rendah dari harga beli)," ujarnya.
Pesawat Lion Air sedang diisi avtur dari tanki Pertamina
Selama ini, keuntungan yang didapat oleh Pertamina dari penjualan avtur di bandara-bandara besar digunakan untuk menutup kerugian di bandara-bandara kecil. "Pertamina melakukan subsidi silang, artinya, kerugian jual avtur di bandara-bandara kecil seperti Mamuju, Silangit, Nias, Pinang Soeri, (serta) daerah-daerah remote seperti Tual, Saumlaki, Larantukan, Luwuk, Labuhan Bajo (Komodo), Tanjung Pinang dan banyak lagi bandara kecil, dikompensasi oleh keuntungan dari bandara-bandara besar," perjelas Bambang.

Untuk itu, Bambang mewakili Pertamina meminta waktu pada pemerintah untuk menyesuaikan harga avturnya. "Kasih kami kesempatan untuk berusaha melakukan segala daya agar harga (avtur) bisa turun, baik melalui efisiensi di segala bidang serta menurunkan margin menjadi sekitar 5% saja, dan tolong diberikan solusi untuk bandara-bandara terpencil tersebut," tukasnya.