Jumat, 15 Februari 2019

Sinergi 6 Pilar, Angkasa Pura I Komitmen Berantas Narkoba di Bandara Juanda

Sidoarjo – Bandara Internasional Juanda berupaya untuk memperketat keamanan dalam pemberantasan narkoba di jalur udara. Dalam upaya tersebut, 6 pilar bersinergi dalam memberantas narkoba. Sinergi ini dilakukan di Terminal 2 pintu kedatangan Bandara Juanda Surabaya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh KPPBC TMP II Juanda Surabaya Budi Hardjanto, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jatim I Muhammad Purwantoro, General Manager Bandar Udara Juanda Kolonel Laut Heru Prasetyo, Komandan Satuan Tugas Pengamanan (Dansatgas Pam) Mayor Amritsam, Kepala Kantor Karantina Kesehatan Kelas I dr. Muh. Budi Hidayat M. Kes, dan Kasat Resnarkoba Polres Sidoarjo Kompol Sugeng.

Menurut General Manager Bandara Juanda Heru Prasetyo, pihaknya berusaha untuk menyediakan jasa kebandarudaraan, jaminan keselamatan, kenyamanan, dan keamanan terhadap penumpang. “Yang mana kita menjamin dan memastikan, jangan sampai lepas barang yang dilarang oleh negara. Kita sudah melaksanakan hal ini setiap harinya. Kami bekerja sama dengan Bea Cukai, Karantina, Air Navigasi, dan TNI Angkatan Laut. Kerja sama yang dilakukan sepanjang masa, kita sering berkoordinasi sehingga kita dapat mengungkap temuan yang dilarang negara,” ujar Heru, Jumat (8/2), seperti dilansir Detiknews.

“Penumpang yang melakukan peredaran apapun yang dilarang negara, saya pastikan tidak akan lepas di wilayah Bandara Juanda Surabaya. Jangan mencoba bermain dengan kami dengan barang terlarang jenis apapun,” sambung Heru.

Sementara itu, Komandan Satuan Tugas Pengamanan (Dansatgas Pam) Mayor Amritsam mengucapkan rasa terima kasihnya terhadap semua pihak yang hadir dalam acara tersebut. Menurutnya pengamanan di Satgas Bandara Juanda merupakan hasil sinergitas dari komponen yang ada di wilayah Juanda.

“Kami selaku Satgas Pam Bandara Juanda, karena sinergitas itu maka kami selalu bisa menggagalkan semua barang yang tidak sesuai aturan penerbangan maupun Undang-Undang. Maka selaku Satgas Pam kami akan memberantas tuntas sampai ke akarnya,” tandas Mayor Amritsam.

Read more…

Kamis, 14 Februari 2019

Rute Domestik Masih Mahal, Tiket Pesawat Aceh-Surabaya Lebih Murah Via Kuala Lumpur?

Jakarta – Hingga kini masyarakat masih mengeluhkan harga tiket pesawat rute domestik yang dinilai mahal. Bahkan beredar kabar yang menyebutkan jika harga tiket pesawat Air Asia ke Surabaya via Kuala Lumpur justru jauh lebih murah dibandingkan naik maskapai dalam negeri.

Seperti dilansir Detik, tiket penerbangan AirAsia dari Banda Aceh ke Surabaya sendiri tarifnya sekitar Rp 800 ribu hingga Rp 1,7 juta. Penerbangan ini mengharuskan penumpang untuk transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur. Sementara itu, untuk maskapai lokal seperti Garuda Indonesia memasang harga tiket pada rute yang sama sebesar Rp 4 juta hingga Rp 4,3 juta. Penerbangan itu transit dulu di Bandara Soekarno-Hatta sebelum menuju Bandara Juanda Surabaya.

Kemudian maskapai Lion Air menawarkan harga yang relatif lebih murah dibandingkan Garuda. Yakni sebesar Rp 1,9 juta hingga Rp 2,8 juta untuk rute yang sama, tetapi transit terlebih dahulu di Bandara Kualanamu, Medan. Dari data tersebut terlihat bahwa dua maskapai lokal yang transit dalam negeri tarifnya justru lebih mahal dibanding maskapai internasional yang transit di Kuala Lumpur, Malaysia.

Menurut VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, harga tiket pesawat untuk rute dari Aceh ke Surabaya tersebut memang wajar. Pasalnya penerbangan Aceh-Surabaya memang harus transit terlebih dahulu di Jakarta. “Kan dari Aceh ke Surabaya memang ada transit dulu ya, jadi ya wajar harga segitu, itu harga normalnya kita memang seperti itu,” kata Ikhsan, Kamis (7/2), seperti dilansir Detik.

Lebih lanjut Ikhsan memaparkan jika harga tiket tersebut bisa dibilang berada pada batasan yang wajar. Pasalnya pihak Garuda Indonesia menetapkan harga tiket di bawah tarif batas atas yang telah ditentukan oleh pemerintah.

“Harga kita itu sudah ada range-nya pas di antara tarif atas dan tarif bawah pada PM 14. Dari Aceh ke Jakarta saja itu tarif atasnya sekitar Rp 2,9 juta, lalu ditambah lagi Jakarta ke Surabaya sekitar Rp 1,6 juta, tinggal tambahkan saja,” pungkas Ikhsan.

Read more…

Rabu, 13 Februari 2019

Overlay Runway Bandara Juanda Tahap I Ditargetkan Rampung Maret 2019

Sidoarjo – Sampai saat ini proyek lanjutan overlay runway atau landasan pacu Bandara Internasional Juanda yang aspalnya sempat terkelupas pada Kamis (7/2) lalu rupanya masih berlanjut. Proyek overlay tahap pertama untuk landasan pacu yang panjangnya mencapai 1.700 meter ini ditargetkan rampung pada bulan Maret 2019 mendatang.

Dengan demikian, PT Angkasa Pura (AP) I selaku pihak pengelola Bandara Juanda masih memiliki tanggungan untuk menyelesaikan 1.300 meter sisanya. Pasalnya total keseluruhan panjang runway di Bandara Juanda mencapai 3.000 meter. “Program overlay runway ini sudah berjalan mulai tahun 2017 hingga Maret 2019. Setelah itu, ada masa pemeliharaan selama satu tahun,” ungkap General Manager PT Angkasa Pura (AP) 1 Juanda Heru Prasetyo, seperti dilansir JPNN.

Apabila telah rampung, maka pihak AP I akan segera melanjutkan pengerjaan overlay runway tahap 2. Sayangnya Heru masih belum bisa menginformasikan kapan pengerjaan tahap 2 dilaksanakan. Dengan demikian, berbagai keluhan yang muncul ketika proyek overlay tahap pertama lalu kemungkinan bisa saja muncul kembali. Misalnya saja pengurangan durasi penerbangan yang harusnya maksimal pukul 23.00 WIB menjadi hanya sampai jam 22.00 WIB.

Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian untuk pihak maskapai dan juga pengguna jasa penerbangan itu sendiri. Menurut Pengamat Penerbangan Cheppy Hakim, terkelupasnya runway 10 Bandara Juanda beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa bandar udara di Indonesia hanya mengejar slot penerbangan, sehingga tiap landasan pacu sangat sibuk.

“Soal runway mengelupas itu satu dampak dari hanya mengejar slot penerbangan. Slot penerbangan kita tinggi tapi infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) ketinggalan,” beber Chepy di Cikini, Jakarta, Sabtu (9/2).

Akibat landasan pacu yang sibuk, waktu untuk maintenance atau perawatan pun menjadi berkurang. Inilah yang menurutnya menyebabkan kualitas runway kurang maksimal lantaran tak dirawat secara teratur. “Landasan-landasan yang sangat sibuk sehingga waktu untuk pemeliharaan itu terbatas membuat kualitas runway akan terkelupas seperti itu,” ungkap Cheppy.

Supaya kejadian serupa tak terulang, pihak bandara seharusnya melakukan langkah antisipasi dengan menjadwalkan perawatan runway secara lebih intensif. “Secara teknis (perawatan) ada aturannya, masing-masing airport berbeda-beda tergantung landasannya, ada yang di atas rawa, laut atau tanah keras. Itu perhitungan teknis tapi harus ada cycle maintenance,” tandasnya.

Read more…

Selasa, 12 Februari 2019

Dorong Wisata Jatim, Direct Flight ke Surabaya Diharapkan Bertambah

SURABAYA – Bandara Internasional Juanda menjadi salah satu bagian rute penerbangan paling sibuk di dunia berdasarkan survei jaringan penerbangan Routes yang berbasis di Inggris. Meski demikian, frekuensi penerbangan langsung ke Surabaya dinilai masih kurang, sehingga kurang menggairahkan sektor pariwisata di Jawa Timur secara keseluruhan.

“Jadi, misalnya di daerah (dekat Surabaya) sudah dibangun objek wisata yang baru, tetapi tidak ada direct flight ke Surabaya, ya tidak bisa dijual paket wisatanya,” ujar Ketua Dewan Tata Krama Asita (Association of Indonesian Tours and Travel Agencies), Nanik Sutaningtyas, dilansir JPNN. “Membuat paket wisata berkaitan erat dengan biaya transportasi, sehingga penerbangan langsung dari kota-kota besar menuju Surabaya akan menekan anggaran wisata.”

Sayangnya, Nanik menambahkan, frekuensi penerbangan langsung ke Bandara Internasional Juanda dari kota-kota besar Indonesia masih kurang. Karena itu, biro perjalanan yang menjual paket wisata Jawa Timur terpaksa mengalokasikan anggaran yang tinggi untuk transportasi. “Bahkan, untuk pangsa pasar mancanegara, kontribusi biaya transportasi dapat mencapai 50 persen,” sambung Nanik.

“Di era sekarang, promosi objek wisata sebenarnya relatif mudah, bisa melalui media sosial,” lanjut Nanik. “Karena itu, meningkatkan aksesibilitas Jawa Timur menjadi hal yang penting, sehingga menambah frekuensi penerbangan langsung ke Surabaya sudah urgent. Selain itu, perlu dikontrol kualitas infrastruktur menuju objek wisata, khususnya akses jalan dari Bandara Internasional Juanda.”

Pada awal tahun 2019 ini, jumlah penumpang di Bandara Internasional Juanda relatif menurun. Setidaknya, dilaporkan penurunan jumlah penumpang mencapai angka 17 persen. Pada bulan Januari 2019, terdapat 1.438.232 penumpang di Bandara Internasional Juanda, turun dari periode yang sama tahun sebelumnya di angka 1.731.969 penumpang.

“Kalau dikaitkan dengan efek bagasi berbayar atau harga tiket tinggi, kami belum bisa memastikan. Mungkin beberapa orang ada yang menggunakan metode berpergian lain, seperti melalui jalur darat, apalagi sekarang sudah ada Tol Trans Jawa,” ujar Communication & Legal Section Head Bandara Juanda, Yuristo Ardhi Hanggoro. “Selain itu, menurut beberapa maskapai penerbangan, awal tahun 2019 ini memang tengah memasuki low season.”

Read more…

Senin, 11 Februari 2019

Kemenhub Kampanye Keselamatan Penerbangan di Bandara Juanda

SURABAYA – Pada hari Minggu (10/2) kemarin, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DJU) Kementerian Perhubungan melakukan acara kampanye keselamatan dan keamanan penerbangan secara serempak di 10 bandara Tanah Air. Acara bertemakan ‘Selamanya’ tersebut salah satunya diadakan di Bandara Internasional Juanda, yang bertujuan memberikan edukasi keselamatan dan keamanan penerbangan kepada calon penumpang.



Meski hujan turun cukup deras, namun kampanye keselamatan penerbangan di Bandara Juanda kemarin berjalan sesuai jadwal dan disambut antusias oleh para penumpang. Kampanye ‘Selamanya’ ini dipimpin oleh OTBAN III Surabaya, Nafhan Syahronidan Bagus Sunjoyo, serta Kepala Balai Kalibrasi Penerbangan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Dilansir Suara Merdeka, di Bandara Juanda, kampanye keselamatan penerbangan diawali dengan melihat langsung situasi kerja di pintu pemeriksaan x-ray di pintu ke keberangkatan Terminal 1. Selama beberapa menit , Kepala Otoritas Bandara dan rombongan menyaksikan pemeriksaan terhadap sejumlah penumpang.

Setelah itu, kampanye dilanjutkan dengan melihat proses chek-in di sejumlah counter tiket pesawat, antara lain Lion Air dan Citilink. Saat melihat proses chek-in tersebut, dilakukan dialog dengan sejumlah penumpang. Kepada beberapa penumpang, ditanyakan mengenai proses layanan terhadap penumpang, mulai layanan check-in, penyebaran informasi, dan informasi lain terkait kenyamanan pelayanan.

Usai melihat proses check-in dan dialog dengan sejumlah penumpang, kampanye dilanjutkan dengan memeriksa kelayakan pesawat seperti melihat kelayakan roda pesawat, bahkan pramugari serta teknisi pesawat pun ditanyai tentang sosialisasi kampanye keselamatan. Pemeriksaan roda pesawat dilakukan terhadap pesawat Batik Air. Demikian pula peninjauan saat penumpang memasuki pesawat dilakukan kepada penumpang yang naik pesawat Batik Air.

Pihak PT Angkasa Pura I sendiri mendukung kegiatan tersebut dengan melakukannya secara serentak di lima bandara besarnya. Selain di Bandara Juanda, kampanye serupa juga dilakukan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, dan Bandara Sam Ratulangi Manado.

“Kami sangat memegang teguh prinsip safety, security, service, and compliance atau biasa dikenal sebagai 3S1C pada setiap kegiatan operasional kami di bandara,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi. “Karena itu, kami mendukung penuh segala bentuk upaya perwujudan hal tersebut, termasuk salah satunya adalah kegiatan Kampanye Keselamatan dan Keamanan Penerbangan di beberapa bandara Angkasa Pura I ini.”

Read more…

Minggu, 10 Februari 2019

NAM Air Resmi Terbangi Rute Surabaya-Samarinda, Harga Tiket Mulai Rp 1 Jutaan

Surabaya – Maskapai Nam Air baru saja membuka rute penerbangan baru Surabaya-Samarinda pergi pulang (PP). Peresmian penerbangan perdana ini dilakukan di Gerbang 7 Terminal Keberangkatan Bandara Internasional Juanda Surabaya, Sabtu (9/2) kemarin.



Menurut Direktur Operasional PT NAM Air, Daniel Aditya, rute Surabaya-Samarinda sengaja diluncurkan karena cukup menjanjikan. “Oleh karenanya, kami juga ikut berkecimpung di rute tersebut. Dengan menggunakan pesawat Boeing 737 - 500 berkapasitas 120 kursi penumpang,” ujar Daniel di Bandara Juanda, Sabtu (9/2), seperti dilansir Tribunnews.

Lebih lanjut Daniel menjelaskan bahwa dari 120 seat atau tempat duduk yang disediakan, 112 kursi di antaranya merupakan kelas ekonomi dan 8 kursi sisanya adalah kursi penerbangan kelas bisnis. “Dengan harga tiket yang cukup terjangkau. Kiranya rute baru ini akan menjadi primadona,” papar Daniel. Adapun harga tiket pesawat rute Surabaya-Samarinda dibanderol sekitar Rp 1 jutaan.

“Dengan jadwal Surabaya-Samarinda jam 10.25. Untuk sebaliknya Samarinda-Surabaya 12.55 WITA. Dan harga tiket tersebut sudah termasuk gratis 20 kg bagasi,” ungkap Daniel.

Salah seorang penumpang bernama Aris Munandar mengaku senang karena maskapai yang berada di bawah pengelolaan Lion Air Group ini membuka rute penerbangan baru Surabaya-Samarinda. “Jadi para konsumen bisa memilih berbagai alternatif penerbangan. Lagipula masih belum menerapkan bagasi berbayar,” jelas Aris Munandar.

Aris juga berharap agar ke depannya pihak Nam Air bersedia menambah jadwal keberangkatan untuk rute penerbangan Surabaya-Samarinda. “Ya kalau bisa jangan jam 10.00 saja. Tetapi ditambah dengan jamnya lebih pagi atau lebih sore. Karena saya prediksi rute ini bakal ramai,” pungkas Aris.

District Manager NAM Air Hendrik Ardiansah menambahkan jika pembukaan rute baru ini untuk mengakomodir permintaan pasar yang semakin meningkat, terutama kelas menengah. “Kalau biasanya hanya tersedia penerbangan ke Balikpapan, ke Samarindanya lewat darat. Ini kami sediakan supaya lebih praktis,” beber Hendrik.

Sementara itu, target load factor atau tingkat keterisian untuk rute baru tersebut diharapkan bisa mencapai 80%. “Tapi penerbangan pertama hari ini (kemarin), bisa 95 persen. Akan kami evaluasi setelah 3 bulan. Kalau dirasa baik akan ditambah dua kali sehari,” ungkap Hendrik.

Read more…